Tampilkan postingan dengan label Kosongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kosongan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Mei 2017


Bagi shu, kumpulan pelacur adalah sekumpulan manusia hina, rendah, bermoral bejat, pantas disamakan dengan tikus gudang dan segala hal yang berkonotasi buruk. Bagi Shu, seorang  laki-laki yang tidak mau menolong dan suka menggoda pelacur adalah manusia menjijikkan, tidak boleh didekati, hanya pantas dipandang sebelah mata dan sederajat dengan kumpulan pelacur tadi.

Shu adalah pelajar 14 tahun di sebuah gereja di Nanking, Tiongkok. Dia dan teman-temannya diajari menjadi seorang kristen yang taat, juga diajari Bahasa Inggris sehingga dia dan teman-temannya bisa berkomunikasi dengan orang asing. Tidak hanya Shu, teman-temannyapun memiliki pandangan yang sama tentang pelacur dan lelaki mesum tadi. Hal ini tidak mengherankan, karena ini adalah pandangan masyarakat umum.

Pada saat itu adalah masa pendudukan Jepang. Para pelajar berlindung di gereja, tempat yang dijamin keamanannya setelah ada perjanjian antara jepang dan pemerintah kota setempat. Di lain pihak, ada seorang lelaki jururawat mayat bernama John, orang amerika.Dia datang ke gereja (lebih tepatnya katedral) untuk menguburkan sang pendeta yang baru saja meninggal. Keadaan luar kategral bukanlah keadaan yang menyenangkan. Terjadi baku tembak di mana-mana. Tentara jepang tidak peduli apakah itu laki-laki, perempuan, anak-anak, orang asing, pelajar, pekerja atau bahkan pelacur sekalipun. Semua yang didapatinya akan ditembak mati. Bukan hal mudah bagi John dan juga para pelajar lain untuk menuju katedral. Mereka dilindungi oleh tentara Cina yang mati karena kalah dalam jumlah dan kemajuan peralatan perang.

Malang bagi John. Dia datang ke katedral untuk bekerja tetapi tidak ada uang di katedral. Hanya ada seorang pelajar laki-laki dan beberapa pelajar perempuan yang berhasil selamat dari kejaran tentara Jepang, termasuk Shu. Para pelajar yang rata-rata 14 tahun tersebut, meminta pertolongan pada John, tetapi John tidak mau. John akhirnya menginap di kamar milik pendeta, yang lebih mewah dari tempat pengungsian perang manapun.

Esok hari, rombongan pelacur datang ke katedral (suatu hal yang dilarang), untuk berlindung. Tak ayal, hal itu membuat John girang. Barangkali bisa meniduri mereka secara cuma-cuma. Wajah kebencian tampak pada wajah Shu dan kawan-kawannya. Mereka bahkan tidak sudi untuk berbagi kamar mandi dengan para pelacur itu. Wanita kotor tidak boleh menggunakan kamar mandi wanita suci. Juga tempat tidur. Para pelacur itu diberi tempat tidur di ruangan bawah lantai.

 
Cerita di atas adalah potongan cerita dalam film The Flowers Of War. Film yang dibintangi oleh aktor terkenal, Christian Bale. Film tersebut berdasarkan pada sebuah novella karya Geling Yan, 13 Flowers of Nanjing, yang terinspirasi oleh buku harian Minnie Vautrin. Belum berhenti disitu, cerita berlanjut ketika tentara Jepang mendatangi katedral karena curiga ada tentara China yang bersembunyi. Shu dan kawan-kawanya berlari untuk segera sembunyi di tempat pelacur, suatu tempat yang paling aman. Tapi malang baginya, tentara jepang mampu mengejarnya. Tepat di atas tempat perlindungan pelacur, Shu memilih lari sehingga para pelacur aman di tempatnya. Naluri John tergugah. Dia menyamar menjadi pendeta untuk melindungi para pelajar. Dasar para tentara sudah terlalu berahi, mereka mengejar para pelajar untuk diperkosa hingga salah satu pelajar memilih untuk bunuh diri. Tiba-tiba terdengar tembakan dari luar dan salah satu tentara tumbang. Semua lari bersiap untuk memburu tentara cina meninggalkan kesan mengerikan bagi Shu dan kawan-kawan.

Selang beberapa hari, komandan jepang datang untuk minta maaf sekaligus mengundang para pelajar untuk menyanyi di pesta para petinggi Jepang. John tau, mereka tidak hanya disuruh menyanyi. Yu Mo, sebagai pelacur yang disegani oleh kawan-kawannya juga tahu itu. Shu dan kawan-kawannya yang juga menyadari, merencanakan untuk bunuh diri. Secara tiba-tiba, Yu Mo dan teman-teman pelacurnya memutuskan untuk menggantikan para pelajar menyanyi di pesta para petinggi Jepang. Shu tidak jadi bunuh diri, dan John merencanakan untuk melarikan pelajar dari Nanking.

Sampai di sini Shu menyadari bahwa ada sisi baik dari orang yang telah dianggap hina olehnya. Shu menyadari, bahkan mereka mau mengorbankan dirinya untuk Shu dan kawan-kawan. Shu menyadari bahwa mereka juga sama dengan dirinya, sebagai manusia biasa.
0


Selamat datang bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat beribu ampunan, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang bahkan lebih baik dari seribu bulan. Selamat datang bulan Ramadhan, Marhaban Yaa Ramadhan.
0

Kamis, 08 September 2016




Seperti yang sudah kita ketahui bersama, tahun 2016 adalah tahun kebijakan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) diberlakukan. Banyak yang meragukan kesiapan Indonesia dalam mengahdapi kebijakan tersebut. Walaupun sebenarnya, saya pribadi sangat yakin bahwa Indonesia sangat siap menghadapinya. Tentu keyakinan saya tersebut sangat subyektif. Karena keyakinan saya tersebut bersasar dari pengalaman pribadi. Salah satu pengalaman tersebut, ketika saya berada di Thailand ini.

Dari 91 peserta KKN-PPL internasional di Thailand Selatan ini, banyak teman-teman yang mengeluhkan bahwa pendidikan di Indonesia jauh lebib baik daripada pendidikan di Thailand daerah selatan ini. Saya sendiri juga merasakan hal serupa. Entah apakah karena KKN-PPL kami berada di daerah pinggiran, berbatasan dengan Malaysia. Sehingga kami merasakan hal seperti ini. Ataukah sama saja dengan pendidikan di Thailand daerah tengaj dan utara, saya tidak tahu.

Tetapi ada satu hal yang sebenarnya mengganjal. Yaitu tentang kesadaran warga Indonesia. Seperti yang dituliskan Indy Hardono dalam artikelnya di Kompas, kita sebagai warga ASEAN seperti tidak merasakan bahwa kita adalah warga ASEAN. Dan saya sendiri, mulai sedikit merasakan sebagai warga ASEAN ketika berada di Thailand. Sebabnya sepele. Diantaranya, banyak sekolah-sekolah dan juga kantor-kantor pemerintahan di pasangi bendera ASEAN dan 10 bendera negara anggota ASEAN. Juga di buku-buku tulis. Dibalik sampul dicantumkan mara uang negara-negara ASEAN beserta konversinya dalam mata uang baht.

Sebelumnya,, saya pribadi merasakan, ttangga kita seperti Singapore,, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina lebih asing daripada Arab, Mesir, Yaman bahkan Amerika dan Eropa. Apalagi tetangga yang lebih jauh seperti Myanmar, Laos, Vietnam dan Kamboja. Ora kenal blas. Mungkin Malaysia masih tidak terlalu asing. Tetapi karena alasan persaingan, gengsi dan statemen-statemen bung Karno tentang Malysia, menjadikan saya merasa asing dengan Malaysia. Bayangkan saja jika ada orang Vietnam tinba-tiba datang ke suatu sekolah di Banyuwangi lalu mengajar disana. Pastilah dikira turis nyasar.

Tetapi hal tersebut tidak saya rasakan di sini. Saya tidak merasakan sebagai turis asing. Saya merasaakan warga Thailand sadar bahwa mereka jugalah warga ASEAN. Sebagai contoh kecil, anak-anak Thailand, yang walaupun berada di Thailand daerah pinggiran, yang notabene pendidikannya dikeluhkan oleh teman-teman, mereka hafal di luar kepala bendera negara-negara ASEAN. Memang hal tersebut tidak bisa atau belum cukup untuk dijadikan tolak ukur . Tetapi saya yakin, banyak dari pelajar Indonesia yang bahkan tidak bisa membedakan antara bendera Myanmar dan bendera Laos.

Contoh kecil lain, ketika saya bercengkerama dengan pelajar-pelajar di sini. Pelajar yang masih kecil-kecil itu, sering kali bertanya tentang Indonesia. Ini di Indonesia ada atau tidak,, itu di Indonesia ada atau tidak, ini namanya apa jika di Indonesia. Sebenarnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang wajar. Tetapi tiba-tiba di suatu kesempata mereka minta diajari lagu Indonesia Raya. Bukan itu saja. Saat saya sedang sibuk dengan telepon pintar saya, mereka meminta untuk diputarkan lagu-lagu kebangsaan negara-negara ASEAN via youtube. Awalnya Indonesia, lalu menjalar ke lagu kebangsaan Malaysia, berturut-turut pula minta dimainkan lagu kebangsaan Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Filipina, Singapura dan Brunei. Mereka tidak meminta diputarkan lagu kebangsaan negara-negara selain ASEAN . Walaupun itu adalah negara maju ataupun negara yang terkenal dengam sepakbolanya.

Beberapa contoh kecil tersebut, bukankah sudah bisa membuktikan bahwa warga Thailand sadar bahwa mereka adalah warga ASEAN. Dan hal tersebut juga membuat saya sadar sebagai warga ASEAN. Jika ada pertanyaan, kenapa kita harus sadar? Jawabnya mudah saja, bagaimana kita bisa bermain bola jika kita sedang tidur?.


0

Kamis, 04 Agustus 2016



“saya besok ingin pergi ke Indonesia,” begitu kata bang adil suatu ketika. Bang adil, seorang pemuda dari Pattani. Menjalankan program semacam pengabdian masyarakat, untuk memenuhi syarat kelulusan dari sekolah tempatnya menuntut ilmu di wilayah Yala, salah satu dari tiga wilayah yang  ingin memerdekakan diri.  Dia berada satu sekolah dengan saya. Dia adalah salah satu dari sekian banyak pelajar Thailand yang ingin meneruskan studinya di Indonesia.

Saat ini, ada ribuan pelajar Thailand, khususnya Thailand selatan yang menempuh pendidikan di Indonesia. Umumnya mereka mendalami ilmu agama. Mereka tersebar di berbagai lembaga pendidikan baik itu pondok pesantren ataupun universitas di Indonesia, khususnya di Jawa. Indonesia adalah salah satu tujuan utama mereka menuntut ilmu, disamping timur tengah.

Rata-rata, pelajar Thailand selatan yang ingin meneruskan studinya di luar negeri, mereka diberi dua pilihan, Indonesia atau timur tengah. Timur tengah sendiri ada berbagai negara, yang populer di sini yaitu Mesir, Arab Saudi dan Yordania. Teman saya, Hadi, pernah bercerita. Ketika dia bertanya kepada salah satu murid di sekolahan tempatnya KKN-PPL tentang kenapa memilih di Indonesia, muridnya menjawab, “Karena ustadz saya pernah berkata, jika ingin mempelajari syari’at islam, belajarlah di timur tengah, jika ingin mempelajari tarbiyah islam, belajarlah ke Indonesia.”

Saya juga pernah bertanya kepada bang Adil, teman saya tersebut, “kenapa tidak memilih di di Timur tengah?” “Karena di Indonesia bahasanya sama, selain itu di Indonesia lebih murah.” Saya mengejarnya dengan pertanyaan yang lain, “kenapa tidak di Malaysia saja, yang lebih dekat?” Dia hanya menjawab dengan singkat, “karena di Indonesia lebih murah.” Alasan yang sama ketika ditanyakan kepada pelajar-pelajar yang lain. Tetapi ada salah satu pelajar yang menjawab dengan berbeda, “karena perempuan Indonesia cantik dan sholehah”.  Wah ini, jawaban yang paling jujur, batin saya. Mungkin dia belum pernah nonto konser dangdut koplo.

Sebenarnya, hal ini tak lepas dari kiprah para pelajar Thailand alumni berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Lewat sepak terjangnya, masyarakat menilai bahwa mereka telah berhasil mengamalkan ilmunya. Selain itu, tak jarang dari mereka yang menjadi pemuka agama, tokoh masyarakat dan juga pendiri sekolah-sekolah besar di daerah Thailand Selatan ini. Lewat mereka, tanpa mereka berkata sedikitpun tentang Indonesia, sudah menggiring opini masyarakat bahwa pendidikan Islam di Indonesia adalah baik.

Selain itu, tentunya, ehm, para pelajar Indonesia yang berada di Thailand. Baik itu yang sudah menjadi guru tetap, yang menjalankan program KKN-PPL ataupun yang memang menempuh studi di sini. Merekalah (baca:kamilah) orang Indonesia yang terjun langsung bersinggungan dengan pelajar-pelajar maupun masyarakat Thailand. Tidak sedikit dari pelajar-pelajar Thailand yang terinspirasi ingin melanjutkan studinya ke Indonesia karena mereka (baca:kami).  Ada yang terinspirasi karena kepandaiannya, skillnya, penguasaan ilmunya, pribadinya yang menyenangkan, mengajarnya yang asik hingga karena ketampanan atau kecantikannya.





 

Ketika baboh* , pergi ke Indonesia, ada semangat tersendiri dari beliau untuk menyekolahkan anak-anaknya di Indonesia. Beliau berada di Indonesia selama satu minggu bersama badan alumni, badan yang beranggotakan orang-orang Thailand selatan alumni berbagai perguruan tinggi di berbagai negara.  Kala itu badan alumni -yang juga memfasilitasi dan mendorong pelajar-pelajar Thailand untuk melanjutkan studi di Indonesia- mengantarkan pelajar-pelajar pilihan untuk melanjutkan studi di Indonesia. Di samping juga kunjungan-kunjungan ke berbagai perguruan tinggi.

Sampai di Thailand, beliau mengatakan bahwa sekolah kita mendapat jatah untuk mengirimkan pelajar ke Indonesia. Sontak para pelajar langsung berbinar matanya. Beliau menceritakan kunjungannya di Indonesia. Sepertinya beliau terkesan pada Universitas Hasyim Asy’ari Jombang. Beliau juga menceritakan  tentang presiden RI ke-empat, Gus dur atau KH Abdurrahman Wahid, cucu dari Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Juga perjuangan pesantren Tebuireng ketika masa penjajahan. Beliau berkata langsung akan mengirimkan anak-anaknya kesana. Sedangkan anaknya yang pertama sudah berada di Tulungagung. Sedang menempuh studi di IAIN Tulungagung.

Besoknya, anaknya baboh yang perempuan, yang tinggi, yang cantik, yang sebelumnya saya kira bukan anaknya, yang namanya Kalima, ngomong pada saya, “Bang, besok saya pergi ke Indonesia”. Saya hanya menjawab singkat, “Iyakah, kapan?”. “Pulang ikut kamu, makan di rumah kamu, tidur di rumah kamu.” Wah lha iki.

Di tengah menteri pendidikan yang dibongkar pasang, di tengah degradasi moral yang dialami pendidikan Indonesia, ditengah berbagai kasus yang dilakukan oleh oknum guru, ditengah berbagai pelanggaran dan kerusakan moral para pelajar Indonesia dan juga di tengah bertubi-tubinya masalah menyerang dunia pendidikan Indonesia, ada harapan dari masyarakat Thailand Selatan untuk menuntut ilmu di Indonesia. Mencicipi pahit manis dunia pendidikan Indonesia, guna mengamalkan ilmu dan membangun Thailand selatan tanah tumpah darah mereka.

*Sebutan untuk pimpinan lembaga pendidikan islam, pemuka agama, kyai jika di Indonesia
0

Sabtu, 30 Juli 2016




Cinta ini mungkin cinta yang terlambat, saya menceritakan ini juga cerita yang terlambat. Entah kapan pertama kali saya merasakannya. Cinta ini bukan cinta seperti cintanya Romeo kepada Juliet, juga bukan cintanya Yusuf kepada Zulaikha apalagi qais kepada Laila. Dan yang pasti, bukan seperti cintanya jomblo kepada kekasih dambaan hati yang hanya ada di alam mimpi. Hingga akhirnya ngowoh tiada bertepi.

Cinta-cinta seperti yang dimiliki oleh duo pasangan legendaris dalam dunia fiksi, Romeo Juliet dan Qais Laila adalah cinta buta yang melupakan mereka dengan dunia. Mencampakkan mereka menjadi budak-budak cinta tersebut. Membuat mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi disekeliling mereka. Jangankan peduli dengan sekeliling, jangankan peduli dengan tetangga mereka yang kelaparan, jangankan peduli kepada nasib rakyat yang termiskinkan, kepada orang-orang yang mencintai mereka saja mereka tidak peduli. Walaupun saya percaya tentang cinta buta, tetapi saya bukan penganut faham cinta buta tersebut.

Sekali lagi, cinta ini bukan cinta seperti itu. Cerita ini juga bukan cerita seperti itu. Setiap kali orang mengatakan cinta, entah kenapa dalam fikirannya selalu tertuju pada kisah cinta seorang laki-laki dan perempuan. Apakah cinta hanya terbatas pada itu saja?. Ini bukan protes seorang jomblo, karena saya bukan jomblo, tetapi single. Bedakan itu. Single itu prinsip, jomblo itu nasib. Kalau seumpama terkadang saya mengaku jomblo, ya memang  prinsip saya menjadi single dan di sisi lain nasib saya menjadi jomblo yang tidak berani menyatakan cinta. Hingga akhirnya ngowoh tiada bertepi.

Dari caranya berpikir, dari caranya bertindak, dari caranya memandang suatu persoalan, dari caranya memecahkan persoalan tersebut, begitu menginspirasi. Dan terkadang, mengharukan. Dari kisah-kisahnya, dari rekam jejaknya, dari hasil yang diperbuatnya, mengagumkan. Saya mungkin hanya seorang dari puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang lain yang juga terinspirasi dari diri beiau. Dan akhirnya, memaksa saya untuk jatuh cinta terhadap sosok beliau.

Beliau terlahir sebagai keluarga miskin dengan nama Dahlan. Masyarakat mengenalnya dengan nama Dahlan Iskan. Beliau yang juga syekher mania itu, pernah memiliki mimpi yang sangat sederhana di masa kecilnya, memiliki sepatu. Mimpi yang bagi orang lain bukanlah mimpi. Terlahir dari keluarga miskin tidak membuatnya putus asa, bahkan terbukti meraih sukses seperti yang dilihat masyarakat sekarang ini. Dan sekarang, beliau sudah bahagia dan menikmati masa tuanya.

Saya mendengar nama beliau untuk pertama kali entah pada tahun berapa. Setelah saya membaca kisah-kisah beliau dari berbagai tulisan, dan juga setelah saya membaca-baca tulisan beliau, entah kenapa jadi ngefans kepada beliau. Tetapi sepertinya ini bukan sekedar kagum, tetapi lebih ke jatuh cinta, saya jatuh cinta kepada beliau. Sebenarnya tidak hanya kepada beliau saya jatuh cinta, terhadap tokoh lainpun juga ada. Hanya saja untuk kali ini, saya ungkapkan saja terlebih dahulu kecintaan saya kepada beliau.

Ada berbagai kisah menarik, menginspirasi, mengharukan dan terkadang lucu. Sya hanya mengisahkan beberapa saja, diantaranya ketika beliau menjadi menteri BUMN pada era pak SBY. Suatu ketika, pak Dahlan melakukan rapat koordinasi dengan beberapa menteri. Seusai rapat, beliau langsung dikerubungi wartawan yang hendak melakukan wawancara. Seusai wawancara, beliau dengan percaya diri membuka pintu salah satu mobil di depannya. Para wartawan yang mengetahui bahwa itu bukan mobil beliau langsung berkata, “mobilnya bukan itu pak.” Pak Dahlan sesaat langsung sadar sambil nyengir, “Oh ternyata bukan mobil saya yah, saya sudah GR kok mobil saya bagus banget.” Mobil tersebut sebenarnya adalah mobil milik pak Hatta Rajasa.

Juga ketika beliau blusukan. Sebelum kata “blusukan” populer sperti sekarang ini, beliau sudah sering blusukan ke desa-desa. Dan salah satu kebiasaan beliau adalah menginap di rumah gedek milik petani. Tidak banyak yang tahu tentang kisah-kisah beliau, karena beliau juga tidak pernah mengundang wartawan untuk meliput blusukan beliau. Seperti ketika menyambangi salah satu rumah petani miskin didaerah kulonprogo. Bersama beberapa staf kementerian, beliau menginap di rumah salah seorang petani miskin di sana. Ketika beliau datang, si pemilik rumah menyiapkan tikar seadanya. Bahkan sebenarnya, si pemilik rumah tidak tahu pak Dahlan itu siapa. Baru tahu ketika ada berita di televisi. Dan beliau tidur di atas tikar tersebut bersama staf dan tuan rumah hingga adzan subuh bergema.

Ketika masih menjadi direktur Jawa Pos, beliau pernah berkunjung di salah satu cabang Jawa Pos di Jember.  Ketika itu, salah seorang office boy sedang mengepel lantai. Pak Dahlan, dengan santainya melewati lantai yang basah itu, mungkin tidak tahu. Si office boy tidak mengenal kalau pak Dahlan adalah direktur Jawa Pos, bos dari bos tempatnya bekerja. Tak ayal dia memarahi pak Dahlan karena sudah melewati lantai yang di pel. Bukannya marah, pak Dahlan malah tersenyum sambil minta maaf. Katanya, karena office boy tersebut sudah bertindak benar. Mungkin dalam hati beliau tertawa ngakak sambil berkata, “Tidak tahu siapa saya dia”.

Dalam tulisannya, beliau sering menuliskan sinar-sinar harapan yang mampu menyinari langit nusantara. Diantaranya tentang kincir angin. Banyak daerah di Indonesia yang belum mendapat pasokan listrik. Sebenarnya Dahlan meminta salah seorang putra Indonesia, Ricky Elson, pemegang 14 paten internasional, untuk membuat mobil listrik. Tetapi Ricky Elson juga memiliki impian untuk membuat kincir angin. Membuat kincir angin di Indonesia tidaklah mudah. Karena selain generatornya mahal, angin di Indonesia juga angin-anginan. Tetapi, Ricky Elson mampu menyelesaikan itu semua, dengan sempurna. Hingga akhirnya, dengan kincir angin ciptaannya sendiri, dia bisa menyinari beberapa desa di Sumba. Dan masih banyak lagi tulisan beliau tentang harapan baru dan juga membangun harapan untuk Indonesia.


0

Rabu, 20 April 2016


Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang disengaja. Saya tidak mengenal beliau. Yang saya tahu, beliau adalah seorang ayah dari salah satu santriwati di Pondok tempat pengabdian saya. Berawal dari silaturohim di rumah seorang kawan, saya bertemu beliau di depan rumahnya. Pada saat itu saya bersama seorang teman seperjuangan, akhirnya berhenti untuk sekedar bersilaturohim.

Kami diajak masuk ke rumahnya yang sederhana. Dibanding dengan rumah-rumah tetangganya, rumah beliau termasuk rumah yang paling sederhana. Tidak terlalu besar, tetapi sudah cukup membuat kenyamanan keluarga. Karena, kenyamanan keluarga tidak hanya dari bangunan yang megah, tetapi juga suasana yang dibina antar anggota keluarga tersebut.

Orangnya bersahaja, maklum memang keluarganya adalah keluarga kyai. Sorot matanya tajam seperti pemikirannya yang tajam pula. Ini tercermin dari kata-kata yang dikeluarkannya. Dari obrolan-obrolan yang kami bahas, beliau lebih banyak berbicara daripada kami. Kami hanya mengangguk mengiyakan apa yang beliau utarakan. Setiap tutur katanya mencerminkan pribadi beliau yang terpelajar.

Beliau mencereitakan tentang pendidikan anaknya, "sebenarnya dia (anaknya) bercerita kalau ingin mencari beasiswa untuk meneruskan ke perguruan tinggi." Saya sendiri berpikir, anaknya tersebut akan sangat mampu untuk meraih beasiswa, tetapi beliau melanjutkan, "tetapi kalau saya menyekolahkan anak, maaf lo mas, ini hanya pendirian saya sendiri, kalau bisa dengan biaya sendiri. Sekali lagi, ini bukan masalah apa-apa, hanya pendirian saya sendiri. Saya merasakan, mencari ilmu itu syaratnya memang biaya, dan biayanya harus jelas. Sedangkan jika beasiswa, itu kan uang negara. Sedangkan uang negara kurang begitu jelas asalnya dari mana."

Saya langsung terpana mendengar ucapan beliau. Di zaman yang menuhankan uang seperti sekarang ini, masih ada orang-orang seperti beliau yang berpikir sampai begitu dalamnya. Bahkan uang beasiswa pun beliau tidak mau mengambilnya. Beliau bukanlah orang kaya yang serba berkecukupan. Bahkan rumahnya pun masih bertembok gedek atau anyaman bambu. Tetapi beliau menanamkan kepada keluarganya, bahwa apa yang dimakan dan apa yang didapatkan haruslah benar-benar dari harta yang halal.

Sangat berlawanan dengan apa yang terjadi dewasa ini. Orang-orang terus memperebutkan harta bagaimanapun caranya. Di segala sendi kehidupan, uang adalah raja. Kata-kata tersebut juga menohok diri saya. Saya sendiri yang mengharapkan beasiswa tetapi tidak pernah dapat. Tetapi saya sendiri masih berkeyakinan bahwa beasiswa bukanlah harta yang haram. Mungkin memang tingkatan saya masih jauh di bawah beliau.

"Oleh karena itu, ketika saya menyerahkan anak saya kepada kyai untuk dipondokkan, saya berkata kepada kyai," lanjut beliau. "Anak saya saya pondokkan disini, saya mohon keikhlasannya untuk dididik. Jika waktunya membayar syahriyah bulanan, insyaallah akan saya cukupi dan saya usahakan untuk tidak terlambat. Kalaupun terlambat sehari dua hari, saya mohon kehalalannya." 

Pikiran saya terus berjalan merenungi kata-kata beliau. Banyak wal-wali santri yang dengan santainya tidak membayar biaya bulanan anak-anaknya. Padahal setiap hari anaknya diberi fasilitas pendidikan, dididik, sampai makanpun juga berada di pondok. Bahkan banyak juga yang sudah lulus tetapi masih menangguhkan pembayarannya. Begitu pula teman-teman kampus. Banyak dari teman-teman yang sampai lulus masih memiliki tanggungan pembayaran. Padahal, mereka bukan anak orang miskin, gawai mereka pun mewah-mewah. Kendaraan untuk ke kampus, juga lebih dari layak. Ini suatu yang paradoks bagi saya.

Lalu saya membanding-bandingkan antara anak yang dibiayai sungguh-sungguh oleh keluarganya, dengan anak-anak yang tidak terlalu dibiayai sungguh-sungguh oleh keluarganya. Entah rumus dari mana, tetapi saya mendapati fakta bahwa anak-anak yang dibiayai sungguh-sungguh oleh keluarganya, akan menjadi anak yang bersungguh-sungguh dalam pendidikannya. Dan hal tersebut berlaku pula untuk kebalikannya. Tetapi, memang bukan hanya hal tersebut saja yang menjadi pengaruh kesungguh-sungguhan seorang anak.

Karena ada pula seorang wali santri yang memiliki pendirian yang penting membayarkan kewajiban kepada pondok, memberikan uang saku kepada anaknya selama satu bulan, sudah. Yang penting kebutuhan anaknya dipenuhi, hal-hal lain tidak terlalu dipikirkan. Biasanya tipe-tipe wali santri seperti ini adalah wali santri yang bekerja sebagai TKI. Jadi, anak tersebut menjadi anak yang manja, kurang kasih sayang dan tidak bersungguh-sungguh dalam pendidikannya. Wallahu a'lam.
0

Jumat, 15 April 2016


Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi 
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi 
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Salah satu lagu favorit para penggemar bang Iwan termasuk saya sendiri ini menggambarkan betapa pak guru yang bernama Oemar Bakrie yang telah mengabdi selama 40 tahun, dengan segala kesederhanaannya mendidik murid-muridnya menjadi profesor, dokter dan juga insinyur. Tapi miris, dengan jasa yang sebesar itu gaji pak guru tidak sepadan dengan apa yang telah diberikan.

Sudah lah pak guru, walaupun ciptakan menteri tapi kalau menterinya tidak perhatian sama panjenengan mbok ya jadi penjaga toilet saja, batin saya. Ups.
Lha yo gimana lo, di Indonesia sangat banyak sekali guru yang harus nyambi kerja lain karena gaji sebagai guru tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Bayangkan saja, mereka adalah yang mengarahkan anak bangsa ini agar terdidik, tidak melenceng bahkan membantu menapaki karir mereka sendiri-sendiri sehingga dapat membangun peradaban bangsa ini. Kita semua tahu, pak Anies Baswedan tidak akan bisa menjadi rektor sampai menteri pendidikan jika sejak kecil tidak ada yang mendidiknya. 

Memang di sekolah-sekolah bonafid gaji guru melambung tinggi. Tapi bandingkanlah antara sekolah bonafid  dengan sekolah-sekolah biasa di negeri ini. selain itu, berapalah jumlah sekolah bonafid di negeri ini. Gaji guru berkisar kurang lebih antara Rp. 150.000 hingga Rp. 5.000.000.  Bayangkan, Rp. 150.000 saja. sangat jauh dari UMR buruh. Di daerah saya saja (Banyuwangi), UMR sebesar Rp. 1.200.000. Dan ketika saya bertanya kepada teman-teman di beberapa lembaga pendidikan setingkat SMP dan SMA, gaji mereka berkisar antara Rp. 300.000 hingga Rp. 500.000. Itu di tingkat menengah, bagaimana jika di tingkat pendidikan dasar. 

Pemerintahpun tak tinggal diam. Demi membalas jasa para oemar bakri, mereka menyediakan tunjangan profesi yang cair setiap tiga sampai empat bulan sekali. Tunjangan tersebut ditujukan kepada guru-guru yang telah memenuhi kualifikasi. Tetapi permasalahan tidak berhenti disitu. ketika jadwal pencairan tunjangan, para guru berharap-harap cemas karena tunjangan mereka tak kunjung cair. Bahkan ada guru-guru yang mendapatkan cairan tunjangan setelah menunggu satu tahun atau lebih. Selain itu, demi mengurus tunjangan yang tak kunjung cair, banyak guru-guru yang bolak-balik ke dinas pendidikan ataupun kemenag, sehingga mengganggu aktivitas belajar mengajar. 

Memang makhuk yang bernama uang tersebut mampu menggetarkan setiap sendi kehidupan. dalam puisi gus mus dikatakan bahwa uang bisa mengatur hal yang tak terartur, bisa mengganjal dan melicinkan bahkan bisa menguasai penguasa. Sehingga jika tunjangan para guru tidak cair, akan sangat mengancam kehidupan mereka. Walaupun seperti itu, akan ada yang banyak mengatakan, "dulu sebelum sertifikasi nasib guru ya baik-baik saja." Eits, mereka mungkin belum pernah terjun langsung ke lapangan. Bagaimana perjuangan guru untuk menghidupi keluarga dengan cara mengambil kerja sambilan. Dan sekarang, ketika ada tunjangan sertifikasi, sialnya beberapa sekolah tidak memahami perbedaan antara gaji dan tunjangan. Beberapa sekolah menganggap, tunjangan sama dengan gaji, jadi mereka tidak menggaji guru karena sudah digaji oleh pemerintah. 

Dalam hal ini, guru menjadi serba salah. Sebagai seorang guru, tidak sepantasnya menuntut gaji. Karena saya sendiri percaya, bahwa pendidikan tidak hanya pada taraf ilmu pengetahuan saja, tetapi juga spiritual. Jiwa keikhlasan yang dimiliki oleh guru, kasih sayangnya kepada murid-muridnya serta kesungguhan guru dalam mengabdikan hidupnya untuk bangsa akan sangat berpengaruh bagi keberhasilan murid. Walaupun toh mungkin metode mengajarnya ketinggalan zaman tetapi jika energi spiritual guru yang kuat, sangat mampu untuk mempengaruhi masa depan murid. Hanya saja, lebih tidak pantas dari pihak sekolah, yayasan dan juga pemerintah untuk tidak memenuhi kebutuhan guru.

Bandingkan dengan penghasilan penjaga toilet. Ibu saya adalah seorang pedagang di salah satu pasar besar di kabupaten kelahiran saya. Di pasar tersebut ada dua toilet, satu di lantai bawah dan satu lagi di lantai atas. Dalam satu pasar tersebut ada banyak sekali pedagang, pembeli, pegawai pasar dan juga kuli angkut para pedagang besar. ketika para pedagang kecil mengeluhkan pasar yang dikuasai oleh pedagang besar dan mengeluhkan pembeli yang lebih sedikit  jumlahnya dari pedagang, tidak demikian halnya dengan penjaga toilet. Entah pedagang besar, kecil, pembeli atau siapapun yang yang lebih banyak, mereka semua tetaplah konsumen bagi si penjaga toilet.

Katakanlah keseluruhan manusia dalam satu pasar tersebut mencapai sepuluh ribu orang. Diantara sepuluh ribu tersebut, rata-rata ada 5% orang perhari yang datang untuk sekedar menunaikan hajat atau mandi. Jika sekali masuk tarifnya adalah Rp. 1000,- maka dalam sehari bisa mendapatkan uang Rp. 500.000,-. Bahkan kebanyakan penjaga toilet akan memasang tari Rp. 2000,- untuk mandi. Itu hanya hitungan dalam sehari. Bandingkan dengan gaji guru yang berkisar antara 150 sampai 500an ribu perbulan. Oleh karena itu, mbok ya jadi penjaga toilet saja. Atau, menjadi tukang semprit pinggir jalanyang juga menjanjikan itu.


0

Rabu, 13 April 2016


Saat kholifah Umar ibn Khattab menjadi kholifah kedua menggantikan sayyiduna Abu Bakar as-siddiq, kekuasan islam terbentang luas sampai wilayah Mesir. kala itu wilayah mesir dipimpin oleh gubernur 'Amr bin Ash RA. Kala itu ada seorang yahudi tua dan miskin memiliki rumah hanya berupa gubuk reot yang tak layak huni serta mengganggu pandangan yang berada di samping istana gubernur. Banyak orang-orang dekat gubernur 'Amr bin Ash menyarankan untuk menggusur gubuk tersebut. Gayungpun bersambut, 'Amr bin Ash mengabulkan niat para elite politik tersebut. Dengan dalih membangun masjid di dekat istana, sang Gubernur memanggil si yahudi tua. Niat disampaikan, peringatan diberikan, ganti rugi disodorkan. Yahudi menolak, lantas berangkat ke ibukota pemerintahan di Madinah untuk menuntut keadilan kepada sang kholifah, Umar bin khattab. Jika zaman sekarang ada orang-orang menuntut keadilan yang berjalan kaki dari rumahnya ke Jakarta, mungkin terinspirasi dari si yahudi tua ini. yang melakukan perjalan dari Mesir ke Madinah.

Dia membayangkan, akan memasuki istana besar yang mewah. karena istana gubernur saja semewah itu, apalagi istana khalifah. Ternyata apa yang dia dapatkan? Hanya rumah sederhana layaknya rumah penduduk biasa. Dia menemui sang kholifah yang sedang tidur di bawah pohon kurma, tanpa ada pengawal kekholifahan layaknya presiden masa kini. Tampaknya sayyiduna Umar bin Khattab tidak takut kalau-kalau ada sniper yang mengancam atau begal yang tiba-tiba merampoknya. Di bawah pohon kurma itu si yahudi tua mencurahkan isi hatinya, mengadukan permasalahannya dan menuntut keadilan kepada kholifah Umar bin Khattab. Lagi-lagi tanpa disangkanya, Umar bin khattab sambil marah-marah mengambil tulang didekatnya, lalu menghunuskan pedangnya. Dia gores tulang tersebut dengan pedangnya dengan goresan yang lurus selurus jembatan Shirathal mustaqim. Dia berikan ke pak tua yahudi dan menyuruhnya untuk memberikan tulang tersebut ke gubernur 'Amr bin Ash.

Dengan perasaan antara galau, gundah dan kebingungan tidak tahu maksud sang kholifah, si yahudi tua ikut saja perintahnya. Setelah melalui jarak yang sangat jauh, dia menyerahkan tulang dari kholifah kepada gubernur 'Amr bin Ash. Tak disangka, sang Gubernur langsung bercucuran keringat dingin dan gemetar. Tak lama setelah itu 'Amr bin ash memerintahkan kepada prajuritnya untuk membatalkan pembangunan masjid dan membongkar pondasi dan tembok yang sudah terlanjur dibangun. Tambah bingunglah si yahudi tua itu. Dia tidak paham apa maksud kholifah memberikan tulang yang telah digores oleh pedangnya tersebut dan apa yang sebenarnya terjadi hingga membatalkan niat gubernur membangun masjid. 

Dia bertanya kepada 'Amr bin Ash tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sang Gubernur menjelaskan bahwa Tulang ini merupakan peringatan keras terhadap dirinya dan tulang ini merupakan ancaman dari Khalifah Umar bin Khattab. Artinya, apa pun pangkat dan kekuasaannya suatu saat dia akan bernasib sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepalanya. Barulah si yahudi tua memahaminya. Dia kagum atas keadilan yang diberikan dan kagum atas ajaran agama islam. Lantas dia bersaksi dan mengucapkan kalimat syahadat. Dia ikhlaskan tanah tersebut untuk pembangunan masjid yang sampai sekarang masjid tersebut masih berdiri kokoh, dikenal dengan masjid 'Amr bin Ash.

Itu adalah kisah ratusan tahun yang lalu. Tetapi kini, acapkali pembangunan tidak pernah memihak kepada rakyat. Akhir-akhir ini, gubernur ibukota Indonesia, gencar melakukan reklamasi ataupun relokasi. Banyak rakyat kecil yang menolak. Tetapi, persis seperti dalam tulisannya cak nun, bahwa pembangunan senantiasa harus disertai oleh sejumlah orang yang "ngalah", misalnya harus merelakan tempat tinggal mereka digusur untuk pendirian bangunan ruang terbuka hijau, real estate, hotel sampai tempat pariwisata. Ganti rugi yang mereka terimapun sering tidak sepadan karena ditentukan secara sepihak oleh penguasa. Husnudzon saja, mungkin gubernur itu memang benar-benar berniat demi kebaikan wilayah yang dipimpinnya. Hanya saja, mbok yao caranya yang lebih manusiawi. 

Dalam tulisan cak nun beliau juga  menceritakan ketika sedang nyantri di Pondok Gontor. Kebetulan saya sendiri lahir dan besar di desa tidak jauh dari Pondok Gontor, sekitar 3 KM. Ketika pak yai bermaksud melebarkan wilayah pondok, beliau melakukan pendekatan kepada penduduk. Tidak hanya menyediakan ganti rugi, tetapi juga menyediakan bonus dan ganti rugi yang berlipat. Tetapi toh penduduk tidak mau beranjak sejengkal pun. Akhirnya, pak yai mengerahan ribuan santri bukan untuk merobohkan bangunan penduduk. Tetapi justru untuk bermunajat kepada Allah dan mengirim fatihah setiap selesai sholat fardlu agar dibukakan hati penduduk. Setelah beberapa bulan, Allah membukakan hati penduduk tersebut dan penduduk tersebut merelakan kerja samanya demi pembangunan jangka panjang.

Ada juga cerita lain yang juga tentang Pondok gontor. Kali ini dari teman saya yang alumni pondok tersebut dan juga pernah mengabdikan dirinya sebagai ustadz selama beberapa tahun. Ketika pak yai juga bermaksud meluaskan wilayah karena sudah tidak cukup lagi untuk menampung kebutuhan pondok. Kebetulan ada lahan kosong disebelah pondok milik penduduk. Beliau melakukan pendekatan kepada penduduk dengan cara yang sama. Tetapi lagi-lagi salah seorang penduduk tersebut tidak merelakan tanahnya. Akhirnya, pak yai tahu bahwa penduduk tersebut memliki anak gadis. Startegi berjalan, dan beliau merencanakan untuk menjodohkannya dengan salah seorang santrinya. Gayungpun bersambut, si gadis memendam rasa kepada salah seorang santri gontor. Perjodohanpun berjalan dengan mulus dan tanahpun diwakafkan ke pondok.
0

Senin, 04 April 2016



Suatu hari seorang bos percetakan yang tak tahu menahu sama sekali tentang design grafis memarahi designernnya, "kamu membuat ini gimana sih, warna tidak pernah benar, gambar ini tidak perlu, sudah sering mendesign kok masih tetap salah?." Ketika itu si designer disuruh membuat banner  peringatan yang dipesan oleh sebuah lembaga pendidikan. Dia membuat sesuai dengan instingnya sebagai designer. Bagaimana pemilihan warna, jenis font, dan elemen-elemen lain yang membuat banner tersebut pantas sebagai banner peringatan. Dengan perkataan si bos tersebut, apakah benar si designer membuat suatu hal yang salah? Apakah dia melakukan sebuah kesalahan yang fatal sehingga membuat perusahaan gulung tikar? Apakah juga akan menyebabkan customer mempermasalahkannya?.

Di tempat lain, ada seorang guru mengajar di sebuah sekolah dasar. Pada hari itu pelajaran melukis. Si guru menyuruh murid-murid melukis buah-buahan. Dia menyuruh melukis sesuai imajinansi masing-masing. Tiba-tiba kepala sekolah datang untuk melihat kinerja guru tersebut. Kepala sekolah memberi peringatan kepada guru, "bukan seperti ini caranya mengajar murid-murid. Mereka tidak boleh melukis seenaknya sendiri. Harus kamu arahkan, harus kamu beri peraturan yang tegas biar mereka terbiasa disiplin." Sekilas apa yang dikatakan kepala sekolah memang benar. Tapi apakah yang dilakukan guru tersebut tidak bisa dibenarkan? Padahal dia lebih tahu apa yang dibutuhkan murid.

Jika kita tarik lebih keatas, seorang anggota DPR memiliki sebuah pendapat dan berpegang teguh pada pendapatnya. Dia menyatakan yang tidak sesuai dengan pendapatnya itu salah. Seorang pemimpin menyukai sesuatu dan menyatakan hal-hal yang tidak disukainya tersebut adalah kesalahan. Dia memberi arahan dengan apa yang disukainya. Apalagi jika seorang anak buahnya tidak sesuai dengan arahannya, marah besarlah pemimpin tersebut. Sekelompok orang menyatakan apa yang dikerjakannya adalah hal yang benar, jika kelompok lain tidak sama dengan mereka, mereka menganggap kelompok yang berseberangan tersebut salah.

Banyak contoh yang lain lagi. Seperti dalam sebuah pertemanan ketika merencanakan suatu kegiatan. Salah seorang teman datang pada suatu acara tersebut dengan menggunakan pakaian yang tidak biasa. Lantas teman yang lain membodoh-bodohkannya hanya karena memakai pakaian yang tidak lazim. Lantas kebenaran itu milik siapa?

Apakah milik bos, kepala sekolah, anggota DPR, atau seorang pemimpin? Ataukah kebenaran milik sekelompok orang, atau milik pendapat umum?

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, terkadang atau bahkan sering kita membenarkan apa yang kita lakukan dan menyalahkan apa yang dilakukan orang lain yang berbeda dengan kita. Kita juga menilai orang lain menurut standar penilaian kita sendiri. Apakah kebenaran tersebut
0

Sabtu, 19 Maret 2016


Bagi saya yang pernah sekolah di pondok selama enam tahun, walaupun tidak mondok, tentu pesantren bukanlah hal yang asing.Segala kehidupannya, sistem yang berjalan di dalamnya, hingga ciri-ciri santri yang gampang mbobol (keluar pondok tanpa izin), insyaallah hafal. Memang saya tidak mondok, tapi soal ilmu keislaman, jangan tanya, jelas kalah jauh dari yang mondok-mondok itu :D. Selain itu, mereka lebih barokah. Maka dari itu, saya ingin mondok seperti mereka.

Persis seperti ngendiko abah yai mereka, "lek pengen barokah seng penting manut." disuruh ngapain saja, ya yang penting manut. "Marmut enak iwake, manut penak awake," begitu lanjut abah yai. Tapi ya begitu, lha wong saya tidak pernah mondok ya saya kurang begitu paham manut yang bagaimana. Saya sih cuma denger-denger saja definisi tentang barokah itu dari teman-teman. Yang pernah saya dengar sih ziyadatun naf'i wa ziyaadatul khoiri. kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih begini, bertambahnya kemanfaatan dan bertambahnya kebaikan.

Nah, untuk mendapatkan barokah, konon harus manut atau menurut dengan yang diperintahkan guru atau ustadz atau yang sebangsa dengan itu. Entah diperintah begini ataupun begitu asalkan yang merintah guru, apalagi pimpinannya guru atau ustadz, poko'e manut. Walaupun diperintah "dinikmati saja" ketika digerayangin di dalam kamar si guru, seperti yang pernah terjadi di beberapa tempat, ya tidak boleh melawan kalau pengen barokah. Kalau melawan, dapat kesialan dan laknat katanya. Memang sih terlalu ekstrim, tapi ya bagaimana lagi. Kalau tidak manut, nanti malah tidak barokah hidup santri tersebut.

Guru itu memang manusia biasa, yang bisa salah dan lupa, juga bisa digoda oleh iblis dan kawan-kawan karibnya. Bahkan ada juga guru yang sudah terbuai oleh indahnya dunia. Tidak banyak sih, tapi kan justru  mereka yang menyuruh untuk menuruti apa yang dikatakan. Walaupun kata-kata "barokah" tersebut seperti senjata mereka untuk menakut-nakuti, tapi kan mereka "guru," "digugu lan ditiru." Walaupun mereka tidak -atau belum- pantas menjadi guru, tapi kan mereka masih "guru" yang harus "digugu lan ditiru."

Kalau dalam kitab ta'lim muta'alim kan seorang murid harus memilih guru terlebih dahulu, disamping memilih ilmu dan memilih teman . Mana guru yang alimwara’ (berhati-hati dalam menjalani hidup, agar benar-benar sesuai dengan ajaran Islam) dan benar-benar pas untuk dijadikan panutan, ya itu yang dipilih. Tapi ya itukan kitab kuno. Sudah tidak relevan dengan zaman yang serba canggih ini. Kalau sekarang, yang penting murah, ya itu guru yang dipilih. Masalah bisa dijadikan sebagai uswah hasanah atau tidak dipikir nanti saja. Yang penting kita manut, barokah hidup kita. Apalagi guru tersebut memiliki embel-embel keagamaan sekaligus tokoh masyarakat. Dapat dobel barokahnya.
0

Senin, 14 Maret 2016

Komentar dari tulisan di Mojok.co




Masyarakat Indonesia khususnya yang ditahbiskan sebagai golongan netizen –termasuk saya-, memang laksana jerami kering yang akan dengan mudah terbakar dengan sekali sulutan. Apalagi jika menyinggung masalah yang berbau agama dan keyakinan. Tak perlu sumbangan bensinpun sudah mbrubuk. Pas untuk nyeduh wedang kopi.

Bagi saya yang juga mahasiswa elok-elok bawang ini, langsung lari nyeduh kopi ketika membaca artikel Muhammad Aprianto dan nukilan curhatan om tere liye yang di cantumkan di sana.. Bukan apa-apa, hanya saja saya terlalu awam pada sejarah bangsa ini. Maklumlah, saya ini hanya anak pondokan yang tidak pernah mondok dengan baik dan benar. Apalagi belajar sejarah kemerdekaan ini yang konon kata om Tere Liye berkat usaha keras para ulama’. Maksud hati ingin menenangkan diri, tetapi yang didapat bukannya tenang, malah jantung berpacu entah berapa kali lebih cepat.

Walaupun bukan sebaga Liye-ers, yang dalam bahasa jawa di daerah kami berarti lapar bukannya ngantuk (maklum, setiap daerah di jawa bisa berbeda mengartikan suatu kata yang sama), saya tidak boleh lantas bersuudzon begitu saja. Karena banyakk emungkinan dan ketidakpastian di dunia ini. Lha wong rezeki dan jodoh yang sudah pasti dijatah saja masih misteri entah sampai kapan. Apalagi ini, status  seorang anak manusia yang bisa salah dan lupa. 

Pertama, saya setuju dengan opini dalam paragraf lanjutan mas Muhammad Aprianto, mungkin memang bisa jadi itu adalah salah satu potongan scene dari novel terbaru tere liye yang belum diluncurkan. Hal tersebut sangat mungkin terjadi, mengingat beliau adalah salah satu novelis yang bukunya berjajar di hampir setiap sudut kota di Indonesia. Jika memang benar hal tersebut adalah potongan scene dari novel terbaru beliau, kita bersyukur ternyata ini hanya potongan scene saja. Tetapi jika ini tidak benar, juga tidak apa-apa. Toh masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Kedua, jika memang bukan potongan scene sebuah novel, sah-sah saja belaiu berpendapat seperti itu. Juga sah-sah saja mas muhammad aprianto berpendapat seperti itu. Setiap warga negara dijamin dalam kebebasan berpendapatnya. Hak Itukan yang diperjuangkan alm. Gus dur ketika membubarkan menteri penerangan? walaupun kata-kata om tere liye tersebut berasal dari hasil perenungan-perenungan beliau di setiap malam, tidak dari buku-buku yang disebutkan mas muhammad aprianto, juga tidak semuanya salah. 

Dalam paragraf pertama, om tere liye mengungkapkan bahwa Indonesia merdeka karena jasa-jasa para pahlawan yang sebagian besar ulama’.  Sebelum menjudgment pernyataan tersebut, kita lihat dulu arti kata ulama’ yang sebenarnya. Jika dilihat dari sisi bahasa, ulama’ adalah kata serapan dari bahasa arab. Kata Ulama’ adalah jamak (plural dalam bahasa inggris) dari kata ‘Alim. ‘Alim sendiri adalah ism fa’il dari kata ‘Alima, yang berarti mengetahui. Jadi ‘Alim adalah orang yang mengetahui atau bisa juga diartikan dengan orang yang berilmu. Sedangkan Ulama’ berarti orang-orang yang berilmu. Tetapi, kata Ulama’ setelah diserap kedalam bahasa Indonesia, mengalami penyempitan makna. Ulama’ diartikan sebagai orang yang pandai dalam ilmu agama islam saja.

Jika  yang dimaksud Bung Darwis ulama’ disini adalah orang-orang yang berilmu, sudah pasti benar. Dalam buku sejarah manapun, yang pertama kali mengobarkan perlawanan adalah golongan terpelajar. Tak usahlah disebutkan tokohnya. Lha wong saya juga belum pernah ketemu. 

Tetapi kalaupun yang dimaksud adalah para kyai, tentu pendapat ini juga tidak salah. Kita sebut saja, di jawa timur ada mbah Hasyim (yang disebut dalam karangan Sayyid Muhammad Asad Syihab  dalam naskah Al-Allamah Muhammad Hasyim Asy’ar wadli’u Labinati Istiqlali Indonesia sebagai pelatak batu pertama kemerdekaan Indonesia) dan mbah Wahab dkk yang mendirikan ormas islam NU. Di Jawa Tengah ada Kyai Penggemar sepak bola, KH. ahmad Dahlan (yang ndilalah kersane ngalah, nama kecilnya sama dengan bung tere, kang Darwis). Di Sumatera, ada Kyai yang juga penulis yang bisa membuat para jomblowan-jomblowati menangis tersedu-sedu karena novelnya, Buya Hamka. 

Jika kita tarik kebelakang ada Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien bersama Teuku Umar di Aceh. Ada Pangeran diponegoro di Jawa. Kurang berjuang apa mereka coba? Tidak ketinggalan, guru para pendiri bangsa, yang juga singa podium, Guru Bangsa Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau mbah cokro. Belum lagi kyai-kyai desa yang berjuang mendukung perjuangan tokoh-tokoh tersebut. Tidak hanya dari umat islam, Om Darwis Tere Liye juga menyebut tokoh agama lain yang juga turut berjuang memerdekakan bangsa. Jadi ya sellow saja...

Dalam paragraf kedua, sayang sekali om Darwis ini seperti ingin mengatakan, kalau berjuang itu ya pakai senjata. Bertarung hidup mati secara jantan layaknya gladiator. Maka beliau menafikan peran yang sebenarnya tak kalah penting dari tokoh-tokoh sosialis, komunis, pendukung liberal dan aktivis HAM yang sebagian telah disebutkan mas Muhammad Aprianto tersebut. Selain itu Om Darwis harus diajak mas Muhammad Aprianto napak tilas jalur gerilya pak dirman dulu biar merasakan bagaimana pemikir sosialis berjuang. Atau kalau tidak mau ya ngopi yang kenthel sajalah sambil nonton film Soedirman dulu. Biar tahu perjuangan pak dirman masuk keluar hutan dengan ditandu. Tapi ya nggak apa-apa mau beropini bagaimana. Kan setiap warga negara sudah dijamin kebebasan berpendapatnya dalam undang-undang. Monggo beropini sebebas-bebasnya. Lha wong opini itu bukan fakta.

Nah dalam paragraf ketiga ini, nasihat om darwis memang mak nyess di satu sisi. Tetapi ya mak nyoss di sisi yang lain. Bagaimana tidak mak nyess, beliau sangat perhatian kepada pemuda-pemuda yang jomblo-jomblo ini. Daripada meratapi nasib yang tak kunjung berubah, lebih baik belajar sejarah, nggak usah silau dengan paham luar, kalau bahasanya kyai-kyai itu biasanya ojo gumunan dan satu lagi nasihat beliau, jangan melupakan kearifan bangsa. Lha mak nyoss nya, karena kita-kita ini selalu berusaha mengintip udang dibalik batu. Tidak dapat udangnya, malah bathuknya yang kejedhug batu.

Ketiga, Mungkin juga Om Darwis Tere Liye kepleset jarinya ketika ngetik status tersebut. Katanya manusia itu tempat salah dan lupa. Ketika beliau menyadari respons yang kurang baik, beliaupun menghapusnya. Kitapun sering salah dan lupa.

Yah kita sebagai penerus bangsa, yang bisanya hanya menunjuk si ini yang paling berjasa, si itu yang cuma titip nama sudah selayaknya mengisi hasil perjuangan mereka dengan hal-hal yang bermanfaat. Ciyeee pesan moral.
Monggo di unjuk riyen kopine . . .


0

Sing Nulis

authorMahmud Rofi'i. I'm no body.
Learn More ?



Babagan