Recent Post

Rabu, 16 September 2026


(Tulisan ini ditulis tahun 2017, dan baru diterbitkan 16 September 2026 tanpa adanya penambahan substansial setelah penulis membuka akun blogger kembali)

Kopi adalah ruh, kopi adalah jiwa, kopi adalah darah. Itu adalah sedikit gambaran antara hubungan kopi dengan orang Jawa. Di kota kelahiran saya, Ponorogo, kopi adalah hal yang wajib ada di setiap rumah. Walaupun tidak ada yang menanam kopi di setiap depan rumah,  tetapi semua rumah bisa dipastikan memiliki kopi deplokan sendiri. Toko-toko di setiap desa, selalu menyediakan kopi mentah. Setiap pagi saat menanak nasi, si ibu rumah tangga tidak akan lupa untuk sekalian menjerang air guna untuk menyeduh kopi bagi dirinya, suami maupun seluruh angota keluarga. Suatu pagi tidak akan lengkap tanpa secangkir kopi. Bahkan teman saya yang kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Arab mengatakan "الحياة تبتدئ بعد شرب القهوة" atau kira-kira artinya begini, "Hidup dimulai setelah minum kopi". 

Rata-rata masyarakat desa adalah petani. Ketika berangkat ke sawah, biasanya siang hari waktu dluhur baru pulang. Berangkat lagi hingga sore. Ketika di sela-sela istirahat, kopi adalah teman yang pas. Ditemani sepuntung rokok dan beberapa pisang atau tempe goreng. Sambil bercengkerama dengan rekan-rekan sesama petani, menikmati sajian tersebut membuat segala kelelahan luntur sedikit demi sedikit bersamaan dengan luruhnya tetesan keringat. Tentunya dengan membawa berbagai sajian tersebut akan sangat merepotkan. Hal ini menjadi kesempatan peluang bisnis bagi pengais rezeki yang lain. Warung kopi di tengah sawahpun didirikan. Pedagang senang, petani senang. Jadi jangan heran jika terdapat bangunan mirip warung di tengah sawah ketika berjalan-jalan ke kota Ponorogo. 

Saking intensnya minum kopi, kebanyakan masyarakatpun menjadi ketergantungan akan kenikmatannya. Tidak peduli tua muda laki-laki perempuan. Tapi hal ini bukan suatu hal yang negatif, asalakan tidak berlebihan. Kebiasaan minum kopi tersebut selalu ditularkan dari generasi ke generasi. Hingga tetap mengakar mendarah mendaging. Warung-warung kopi tetap eksis tidak pernah tergusur oleh perubahan zaman. Bahkan kini warung-warung kopi yang beroperasi malam hari terus menjamur di pinggir-pinggir jalan raya. Saking mendarah dagingnya, banyak dari masyarakat membawa kebiasaan tersebut dimanapun dia berada, termasuk saya.

Sebagai penikmat kopi, saya akan kelabakan jika sehari tanpa secangkir kopi. Hal ini saya alami ketika berada di Thailand. Awal berada di Thailand, saya tidak tahu menahu jika ada kopi sachet yang dijual di toko dekat sekolah tempat saya mengajar. Bahkan saya tidak tahu ada toko berdiri di dekat sekolah saya tersebut. Maklum, sekolahan saya terletak agak masuk ke dalam dari jalan besar. Satu-satunya jalan untuk ngopi, adalah dari kopi milik baboh (kyai pemilik sekolahan) sendiri. Kopi tersebut sudah dibungkus rapi dalam sachet-sachet berwarna emas. Tapi sayang, rasanya tidah seindah sachetnya. Dan tentunya, saya tidak akan berani menyeduh kopi tersebut setiap hari.

Juga ketika di Banyuwangi sampai sekarang ini. Walaupun bulan ramadhan, kebiasaan ngopi tidak akan tertinggal. Apalagi banyak teman saya yang berasal dari kota yang sama. Sahur dan buka tidak akan lengkap tanpa seduhan kopi. Dan akan merengut plus mbesengut ketika teman perempuan saya ngomel-ngomel di kantor, "gelase sopo iki ora diisahi?".
0

Sabtu, 27 Mei 2017


Bagi shu, kumpulan pelacur adalah sekumpulan manusia hina, rendah, bermoral bejat, pantas disamakan dengan tikus gudang dan segala hal yang berkonotasi buruk. Bagi Shu, seorang  laki-laki yang tidak mau menolong dan suka menggoda pelacur adalah manusia menjijikkan, tidak boleh didekati, hanya pantas dipandang sebelah mata dan sederajat dengan kumpulan pelacur tadi.

Shu adalah pelajar 14 tahun di sebuah gereja di Nanking, Tiongkok. Dia dan teman-temannya diajari menjadi seorang kristen yang taat, juga diajari Bahasa Inggris sehingga dia dan teman-temannya bisa berkomunikasi dengan orang asing. Tidak hanya Shu, teman-temannyapun memiliki pandangan yang sama tentang pelacur dan lelaki mesum tadi. Hal ini tidak mengherankan, karena ini adalah pandangan masyarakat umum.

Pada saat itu adalah masa pendudukan Jepang. Para pelajar berlindung di gereja, tempat yang dijamin keamanannya setelah ada perjanjian antara jepang dan pemerintah kota setempat. Di lain pihak, ada seorang lelaki jururawat mayat bernama John, orang amerika.Dia datang ke gereja (lebih tepatnya katedral) untuk menguburkan sang pendeta yang baru saja meninggal. Keadaan luar kategral bukanlah keadaan yang menyenangkan. Terjadi baku tembak di mana-mana. Tentara jepang tidak peduli apakah itu laki-laki, perempuan, anak-anak, orang asing, pelajar, pekerja atau bahkan pelacur sekalipun. Semua yang didapatinya akan ditembak mati. Bukan hal mudah bagi John dan juga para pelajar lain untuk menuju katedral. Mereka dilindungi oleh tentara Cina yang mati karena kalah dalam jumlah dan kemajuan peralatan perang.

Malang bagi John. Dia datang ke katedral untuk bekerja tetapi tidak ada uang di katedral. Hanya ada seorang pelajar laki-laki dan beberapa pelajar perempuan yang berhasil selamat dari kejaran tentara Jepang, termasuk Shu. Para pelajar yang rata-rata 14 tahun tersebut, meminta pertolongan pada John, tetapi John tidak mau. John akhirnya menginap di kamar milik pendeta, yang lebih mewah dari tempat pengungsian perang manapun.

Esok hari, rombongan pelacur datang ke katedral (suatu hal yang dilarang), untuk berlindung. Tak ayal, hal itu membuat John girang. Barangkali bisa meniduri mereka secara cuma-cuma. Wajah kebencian tampak pada wajah Shu dan kawan-kawannya. Mereka bahkan tidak sudi untuk berbagi kamar mandi dengan para pelacur itu. Wanita kotor tidak boleh menggunakan kamar mandi wanita suci. Juga tempat tidur. Para pelacur itu diberi tempat tidur di ruangan bawah lantai.

 
Cerita di atas adalah potongan cerita dalam film The Flowers Of War. Film yang dibintangi oleh aktor terkenal, Christian Bale. Film tersebut berdasarkan pada sebuah novella karya Geling Yan, 13 Flowers of Nanjing, yang terinspirasi oleh buku harian Minnie Vautrin. Belum berhenti disitu, cerita berlanjut ketika tentara Jepang mendatangi katedral karena curiga ada tentara China yang bersembunyi. Shu dan kawan-kawanya berlari untuk segera sembunyi di tempat pelacur, suatu tempat yang paling aman. Tapi malang baginya, tentara jepang mampu mengejarnya. Tepat di atas tempat perlindungan pelacur, Shu memilih lari sehingga para pelacur aman di tempatnya. Naluri John tergugah. Dia menyamar menjadi pendeta untuk melindungi para pelajar. Dasar para tentara sudah terlalu berahi, mereka mengejar para pelajar untuk diperkosa hingga salah satu pelajar memilih untuk bunuh diri. Tiba-tiba terdengar tembakan dari luar dan salah satu tentara tumbang. Semua lari bersiap untuk memburu tentara cina meninggalkan kesan mengerikan bagi Shu dan kawan-kawan.

Selang beberapa hari, komandan jepang datang untuk minta maaf sekaligus mengundang para pelajar untuk menyanyi di pesta para petinggi Jepang. John tau, mereka tidak hanya disuruh menyanyi. Yu Mo, sebagai pelacur yang disegani oleh kawan-kawannya juga tahu itu. Shu dan kawan-kawannya yang juga menyadari, merencanakan untuk bunuh diri. Secara tiba-tiba, Yu Mo dan teman-teman pelacurnya memutuskan untuk menggantikan para pelajar menyanyi di pesta para petinggi Jepang. Shu tidak jadi bunuh diri, dan John merencanakan untuk melarikan pelajar dari Nanking.

Sampai di sini Shu menyadari bahwa ada sisi baik dari orang yang telah dianggap hina olehnya. Shu menyadari, bahkan mereka mau mengorbankan dirinya untuk Shu dan kawan-kawan. Shu menyadari bahwa mereka juga sama dengan dirinya, sebagai manusia biasa.
0


Selamat datang bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat beribu ampunan, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang bahkan lebih baik dari seribu bulan. Selamat datang bulan Ramadhan, Marhaban Yaa Ramadhan.
0

Sabtu, 08 Oktober 2016

Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada
Bertemu akan berpisah

Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah

Hei, sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi

Meskipun ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Lagu sampai jumpa milik Endank Soekamti berkali-kali saya ulang-ulang. Tak terasa 139 hari jatah di Thailand hanya tinggal beberapa hari saja. 4 bulan yang lalu, teringat bagaimana harus beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Teringat juga perjalanan ke Phatthalung setelah berpisah dengan teman-teman. Saat itu saya merasa tidak siap untuk sendirian berada di negeri orang. Minggu-minggu awal yang berat, hingga masalah utama tidak paham bahasa Thailand sama sekali, benar-benar membuat saya harus menguat-nguatkan diri. 

Tetapi, lambat laun , hari-hari yang berat berubah menjadi hari-hari yang indah. Bisa mengenal orang-orang yang sama sekali baru, sedikit demi sedikit belajar bahasa mereka, kebiasaan mereka hingga kebudayaan mereka. Lambat laun mulai mengerti dan memahami hingga membuka mata saya sebagai warga ASEAN.

Tentunya, dalam kehidupan tidak selalu melewati jalanan aspal mulus rata nyaris tanpa cobaan. Juga tidak selalu menanjak naik ke atas tetapi sambil menikmakti pemandangan pegunungan yang indah. Tetapi dalam perjalanan kehidupan, selalu dinamis. Kadangkala melewati aspal mulus, kadangkala jalanan pedesaan, kadangkala pula jalalanan pegunungan yang ekstrim naik turun penuh bebatuan, atau malah jalanan berlumpur sedalam lutut. 

Tetapi diantara perjalanan itu, yang diumpamakan sebagai jalan mulus belum tentu selalu indah. Bisa saja membosankan karena panasnya jalan raya dan padatnya kendaraan. Memang seperti itulah kehidupan. Dan setiap perjalanan itu, -selama perjalanan tersebutasih di dunia- pastilah ada akhirnya.

Begitu juga di sini. Tidak selalu mengalami hal-hal indah dan juga tidak selalu mengalami hal-hal buruk. Memang kehidupan sangat hobi mempermainkan manusia. Kadangkala manusia diterbangkan setinggi-tingginya, sedetik kemudian dihempaskan hingga perut bumi. Kadangkala ingin di sini terus menerus, kadangkala pula ingin pulang saat itu juga. Dan hal-hal yang membuat merasa ingin pulang, terkadang hanyalah hal-hal sepele. 

Katakanlah seperti murid-murid yang terkadang mengabaikan saya letika diajar, ketika barang-barang sepele yang tiba-tiba hilang tak berbekas hingga ketika laptop rusak yang tidak kunjung diperbaiki oleh tukang servis. Atau ketika teringat tempe goreng saat akan sarapan pagi yang menunya selalu telur yang membuat kulit sangat gatal karena tidak tawar, hingga ketika jatuh sakit di negeri rantau. Ketika hal-hal sepele tersebut terjadi, selalu terbersit dalam hati, “jika saya di Indonesia, bla bla bla,” akhirnya ingin pulang saat itu juga.

Tetapi lebih banyak lagi hal indah yang tak terlupakan. Contoh kecil diantara yang banyak tersebut seperti saat berpetualang dan berbagi cerita dengan teman-teman, saat disambut dengan baik oleh keluarga-keluarga yang oernah saya datangi, saat bercanda bersama murid-murid, Orang-orang yang dulunya tidak saya kenal sama sekali menjadi orang yang dekat dengan saya dan lain sebagainya. 

Dan suatu hari saya diingatkan sesuatu, “bang, saya tidak mengijinkan kamu pulang ke Indonesia,” kata salah seorang murid. Tak lama setelah itu, banyak murid lain mengatakan hal serupa. 

Ada satu hal yang saya sadari, saya harus pulang ke Indonesia beberapa hari lagi. Ketika sudah merasa nyaman, kami harus berpisah. Mengingat segala hal yang pernah terjadi, baik itu yang indah maupun yang tidak indah, lalu tiba-tiba harus pulang, rasanya . . . . 





Biasa saja.



0

Kamis, 08 September 2016




Seperti yang sudah kita ketahui bersama, tahun 2016 adalah tahun kebijakan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) diberlakukan. Banyak yang meragukan kesiapan Indonesia dalam mengahdapi kebijakan tersebut. Walaupun sebenarnya, saya pribadi sangat yakin bahwa Indonesia sangat siap menghadapinya. Tentu keyakinan saya tersebut sangat subyektif. Karena keyakinan saya tersebut bersasar dari pengalaman pribadi. Salah satu pengalaman tersebut, ketika saya berada di Thailand ini.

Dari 91 peserta KKN-PPL internasional di Thailand Selatan ini, banyak teman-teman yang mengeluhkan bahwa pendidikan di Indonesia jauh lebib baik daripada pendidikan di Thailand daerah selatan ini. Saya sendiri juga merasakan hal serupa. Entah apakah karena KKN-PPL kami berada di daerah pinggiran, berbatasan dengan Malaysia. Sehingga kami merasakan hal seperti ini. Ataukah sama saja dengan pendidikan di Thailand daerah tengaj dan utara, saya tidak tahu.

Tetapi ada satu hal yang sebenarnya mengganjal. Yaitu tentang kesadaran warga Indonesia. Seperti yang dituliskan Indy Hardono dalam artikelnya di Kompas, kita sebagai warga ASEAN seperti tidak merasakan bahwa kita adalah warga ASEAN. Dan saya sendiri, mulai sedikit merasakan sebagai warga ASEAN ketika berada di Thailand. Sebabnya sepele. Diantaranya, banyak sekolah-sekolah dan juga kantor-kantor pemerintahan di pasangi bendera ASEAN dan 10 bendera negara anggota ASEAN. Juga di buku-buku tulis. Dibalik sampul dicantumkan mara uang negara-negara ASEAN beserta konversinya dalam mata uang baht.

Sebelumnya,, saya pribadi merasakan, ttangga kita seperti Singapore,, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina lebih asing daripada Arab, Mesir, Yaman bahkan Amerika dan Eropa. Apalagi tetangga yang lebih jauh seperti Myanmar, Laos, Vietnam dan Kamboja. Ora kenal blas. Mungkin Malaysia masih tidak terlalu asing. Tetapi karena alasan persaingan, gengsi dan statemen-statemen bung Karno tentang Malysia, menjadikan saya merasa asing dengan Malaysia. Bayangkan saja jika ada orang Vietnam tinba-tiba datang ke suatu sekolah di Banyuwangi lalu mengajar disana. Pastilah dikira turis nyasar.

Tetapi hal tersebut tidak saya rasakan di sini. Saya tidak merasakan sebagai turis asing. Saya merasaakan warga Thailand sadar bahwa mereka jugalah warga ASEAN. Sebagai contoh kecil, anak-anak Thailand, yang walaupun berada di Thailand daerah pinggiran, yang notabene pendidikannya dikeluhkan oleh teman-teman, mereka hafal di luar kepala bendera negara-negara ASEAN. Memang hal tersebut tidak bisa atau belum cukup untuk dijadikan tolak ukur . Tetapi saya yakin, banyak dari pelajar Indonesia yang bahkan tidak bisa membedakan antara bendera Myanmar dan bendera Laos.

Contoh kecil lain, ketika saya bercengkerama dengan pelajar-pelajar di sini. Pelajar yang masih kecil-kecil itu, sering kali bertanya tentang Indonesia. Ini di Indonesia ada atau tidak,, itu di Indonesia ada atau tidak, ini namanya apa jika di Indonesia. Sebenarnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang wajar. Tetapi tiba-tiba di suatu kesempata mereka minta diajari lagu Indonesia Raya. Bukan itu saja. Saat saya sedang sibuk dengan telepon pintar saya, mereka meminta untuk diputarkan lagu-lagu kebangsaan negara-negara ASEAN via youtube. Awalnya Indonesia, lalu menjalar ke lagu kebangsaan Malaysia, berturut-turut pula minta dimainkan lagu kebangsaan Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Filipina, Singapura dan Brunei. Mereka tidak meminta diputarkan lagu kebangsaan negara-negara selain ASEAN . Walaupun itu adalah negara maju ataupun negara yang terkenal dengam sepakbolanya.

Beberapa contoh kecil tersebut, bukankah sudah bisa membuktikan bahwa warga Thailand sadar bahwa mereka adalah warga ASEAN. Dan hal tersebut juga membuat saya sadar sebagai warga ASEAN. Jika ada pertanyaan, kenapa kita harus sadar? Jawabnya mudah saja, bagaimana kita bisa bermain bola jika kita sedang tidur?.


0

Sabtu, 03 September 2016



Seperti yang pernah saya ceritakan, banyak pelajar Thailand selatan yang ingin belajar di Indonesia. Dan juga banyak yang sudah berada di Indonesia. Konsulat Indonesia di Songkhla mencatat, rata-rata mereka mengeluarkan 1200 visa pelajar Thailand. Salah satunya, termasuk anak baboh. Hari itu baboh pulang dari Indonesia setelah mengikuti rombongan badan alumni yang mengantarkan oara pelajar Thailand ke tempat mereka studi. Tentunya ada banyak cerita yang baboh bawa untuk diceritakan ke murid-murid dan guru-guru tentang kesan beliau selama seminggu berada di Indonesia. Mulai dari cerita sekolah-sekolah yang dikunjungi, jalanan yang ramai (jauh lebih ramai dari Thailand, katanya), populasi yaang sangat banyak san tentunya, makanan khas.

Selain pulang membawa cerita, tentunya tak elok jika tidak membawa oleh-oleh. Seminggu ke luar negeri pulang tak membawa oleh-oleh, tentunya akan membuat semua orang memandang kita layaknya koruptor yang telah mencuri harta rakyat jelata. Pantas untuk dihukum seberat-beratnya. Sepertinya baboh tak ingin haal itu terjadi pada diri beliau.

Sehari setelah pulang dari Indonesia, baboh mengumpulkan semua guru untuk membahas hal-hal yang tidak saya pahami, blas. Mereka semua berbicara dengan bahasa Thailand yang sangat cepat sekali. Sedikitpun saya tidak tahu mereka berbicara apa. Rasanya seperti nomton film Thailand tanpa subtitle. Cuman bedanya, saya tidak berada di depan lapto (maklum pecinta film gratisan), tetapi langsung berada di tempat shoting, live.

Saya kira, setelah acara tersebut selesai, baboh mengeluarkan amplop untuk dibagi ke guru-guru, termasuk saya. Maklum saya belum pernah mendapat uang saku sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Thailand. Berbeda dengan teman-teman, lancar jaya. Ternyata bukan, baboh tidak mengeluarkan amplop, tetapi bingkisan. Sedikit kata yang saya pahami, “bingkisan dari Indonesia” katanya. “Mahmud tidak dapat”, sahut makcik istri baboh sambil tertawa. Saya hanya tersenyum menanggapinya. Lalu baboh mengeluarkan bingkisan satu persatu. Dan, jeng jeng jeng, baju batik sekitar 40-60 ribuan.

Yang tidak saya sangka, ekspresi dari guru-guru. Guru-guru yang kebanyakan perempuan itu, dan diantara perempuan  tersebut, mayoritas emak-emak, menunjukkan ekspresi yang sangat menghebohkan. Ekspresi mereka seperti cewek-cewek bertemu dengan artis korea pujaan hati ataupun cewek-cewek yang bertemu dengan boy band idaman mereka. Histeris tak terkendali. Dalam batin saya, “howalah, kalau hanya seperti itu di pasar ya mumbruk.” Sedangkan yang bapak-bapak hanya senyum-senyum saja. Entah pengen histeris tapi malu atau senyum karena bingung mengekspresikan kebahagiannya. Yang jelas, semua suka dengan batik, produk asli Indonesia.

Dari yang saya ketahui, banyak produk-produk made in Indonesia yang digemari di sini. Seperti cerita teman-teman yang dipuji ketika mengenakan produk-produk Indonesia mulai dari songlok di atas kepala hingga sepatu di bawah kaki. Juga yang perempuan. Menurut cerita kakak angkatan saya, dia diminta mengirimkan kerudung-kerudung dari Indonesia. Mereka suka, katanya. Bahkan ketika saya mengenakan jas almamater, jasket BEM ataupun jaket made in Indonesia, semua memujinya. Dan dengan sedikit berharap, diberikan kepada mereka. Ini yang nggak enak.

Yang pernah saya ceritakan juga, Iqro’ dan kitab-kitab karya ulama’ Indonesia yang diajarkan di sini. Dan produk yang paling banyak dipakai dari Indonesia adalah sarung. Pakaian tradisional muslim nusantara yang tak lapuk oleh zaman ini, sangat banyak beredar disini. Bahkan banyak sekolajan, yang gurunya selalu mengenakan sarung setiap mengajar. Mungkin berawal dari pertalian sejarah yang sangat kuat dengan tradisi keislaman di Indonesia sejak kesultanan islam Pattani belum dikuasai oleh Siam. Dan tradisi tersebut masih terus hidup hingga sekarang. Banyak sekali produk-produk made in Indonesia yang beredar. Bahkan yang di Indonesia tidak populerpun di sini ada. Seperti sarung merk “beer ali” dan juga merk “robot”. Dua merk ini saya pribadi belum pernah melihat dan mendengar kiprahnya di Indonesia, khususnya di daerah saya sendiri, jawa timur. Entah jika di daerah lain. “sarung merk apa ini”, Saya cuma membatin.

Yang populer di sini dan juga populer di Indonesia diantaranya adalah sarung samarinda. Sarung yang sangat khas yang tidak usah melihat merknya saja sudah bisa dipastikan bahwa sarung tersebut adalah sarung samarinda. Adalagi sarung legendaris yang pernah sangat populer di Indonesia dan masih populer disini, yaitu sarung gajah duduk.

Orang Thailand aja sukabsarung Indonesia, masa kita tidak?



0

Sing Nulis

authorMahmud Rofi'i. I'm no body.
Learn More ?