Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
Salah satu lagu favorit para penggemar
bang Iwan termasuk saya sendiri ini menggambarkan betapa pak guru yang bernama
Oemar Bakrie yang telah mengabdi selama 40 tahun, dengan segala
kesederhanaannya mendidik murid-muridnya menjadi profesor, dokter dan juga
insinyur. Tapi miris, dengan jasa yang sebesar itu gaji pak guru tidak sepadan
dengan apa yang telah diberikan.
Sudah lah pak guru, walaupun ciptakan
menteri tapi kalau menterinya tidak perhatian sama panjenengan mbok ya jadi penjaga toilet saja,
batin saya. Ups.
Lha yo gimana lo, di Indonesia sangat banyak sekali guru yang harus nyambi
kerja lain karena gaji sebagai guru tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Bayangkan
saja, mereka adalah yang mengarahkan anak bangsa ini agar terdidik, tidak
melenceng bahkan membantu menapaki karir mereka sendiri-sendiri sehingga dapat
membangun peradaban bangsa ini. Kita semua tahu, pak Anies Baswedan tidak akan
bisa menjadi rektor sampai menteri pendidikan jika sejak kecil tidak ada yang
mendidiknya.
Memang di sekolah-sekolah bonafid gaji
guru melambung tinggi. Tapi bandingkanlah antara sekolah bonafid dengan sekolah-sekolah biasa di negeri
ini. selain itu, berapalah jumlah sekolah bonafid di negeri ini. Gaji guru
berkisar kurang lebih antara Rp. 150.000 hingga Rp. 5.000.000. Bayangkan,
Rp. 150.000 saja. sangat jauh dari UMR buruh. Di daerah saya saja (Banyuwangi),
UMR sebesar Rp. 1.200.000. Dan ketika saya bertanya kepada teman-teman di
beberapa lembaga pendidikan setingkat SMP dan SMA, gaji mereka berkisar antara
Rp. 300.000 hingga Rp. 500.000. Itu di tingkat menengah, bagaimana jika di
tingkat pendidikan dasar.
Pemerintahpun tak tinggal diam. Demi
membalas jasa para oemar
bakri, mereka menyediakan
tunjangan profesi yang cair setiap tiga sampai empat bulan sekali. Tunjangan
tersebut ditujukan kepada guru-guru yang telah memenuhi kualifikasi. Tetapi
permasalahan tidak berhenti disitu. ketika jadwal pencairan tunjangan, para guru berharap-harap
cemas karena tunjangan mereka tak kunjung cair. Bahkan ada guru-guru yang
mendapatkan cairan tunjangan setelah menunggu satu tahun atau lebih. Selain
itu, demi mengurus tunjangan yang tak kunjung cair, banyak guru-guru yang
bolak-balik ke dinas pendidikan ataupun kemenag, sehingga mengganggu aktivitas
belajar mengajar.
Memang makhuk yang bernama uang tersebut
mampu menggetarkan setiap sendi kehidupan. dalam puisi gus mus dikatakan bahwa
uang bisa mengatur hal yang tak terartur, bisa mengganjal dan melicinkan bahkan
bisa menguasai penguasa. Sehingga jika tunjangan para guru tidak cair, akan
sangat mengancam kehidupan mereka. Walaupun seperti itu, akan ada yang banyak
mengatakan, "dulu sebelum sertifikasi nasib guru ya baik-baik saja."
Eits, mereka mungkin belum pernah terjun langsung ke lapangan. Bagaimana
perjuangan guru untuk menghidupi keluarga dengan cara mengambil kerja sambilan.
Dan sekarang, ketika ada tunjangan sertifikasi, sialnya beberapa sekolah tidak
memahami perbedaan antara gaji dan tunjangan. Beberapa sekolah menganggap,
tunjangan sama dengan gaji, jadi mereka tidak menggaji guru karena sudah digaji
oleh pemerintah.
Dalam hal ini, guru menjadi serba salah.
Sebagai seorang guru, tidak sepantasnya menuntut gaji. Karena saya sendiri
percaya, bahwa pendidikan tidak hanya pada taraf ilmu pengetahuan saja, tetapi
juga spiritual. Jiwa keikhlasan yang dimiliki oleh guru, kasih sayangnya kepada
murid-muridnya serta kesungguhan guru dalam mengabdikan hidupnya untuk bangsa
akan sangat berpengaruh bagi keberhasilan murid. Walaupun toh mungkin metode
mengajarnya ketinggalan zaman tetapi jika energi spiritual guru yang kuat,
sangat mampu untuk mempengaruhi masa depan murid. Hanya saja, lebih tidak
pantas dari pihak sekolah, yayasan dan juga pemerintah untuk tidak memenuhi
kebutuhan guru.
Bandingkan dengan penghasilan penjaga
toilet. Ibu saya adalah seorang pedagang di salah satu pasar besar di kabupaten
kelahiran saya. Di pasar tersebut ada dua toilet, satu di lantai bawah dan satu
lagi di lantai atas. Dalam satu pasar tersebut ada banyak sekali pedagang,
pembeli, pegawai pasar dan juga kuli angkut para pedagang besar. ketika para
pedagang kecil mengeluhkan pasar yang dikuasai oleh pedagang besar dan
mengeluhkan pembeli yang lebih sedikit jumlahnya dari pedagang, tidak
demikian halnya dengan penjaga toilet. Entah pedagang besar, kecil,
pembeli atau siapapun yang yang lebih banyak, mereka semua tetaplah konsumen
bagi si penjaga toilet.
Katakanlah keseluruhan manusia dalam satu
pasar tersebut mencapai sepuluh ribu orang. Diantara sepuluh ribu tersebut,
rata-rata ada 5% orang perhari yang datang untuk sekedar menunaikan hajat atau
mandi. Jika sekali masuk tarifnya adalah Rp. 1000,- maka dalam sehari bisa
mendapatkan uang Rp. 500.000,-. Bahkan kebanyakan penjaga toilet akan memasang
tari Rp. 2000,- untuk mandi. Itu hanya hitungan dalam sehari. Bandingkan dengan
gaji guru yang berkisar antara 150 sampai 500an ribu perbulan. Oleh karena itu,
mbok ya jadi penjaga toilet saja. Atau, menjadi tukang semprit pinggir jalanyang juga menjanjikan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar